hay hay
gua Randy raharja
katanya sii mirip Christian Sugiono
hahahhaa

umur 20 tahun
kuliah di IPB dept. komunikasi dan pengembangan masyarakat
sibuk bener dah semester skrg

gua orang yang
-simple

-easy going

-enjoy

-asik

-SKSD

-nyelow

-ramah

-senyum manis(hahahaha)

buat yang ingin tau lebih dekat

sering sering lah buat ngobrol bareng

hahahha

lu asik gua nyantai
lu usik gua BANTAI..

(salam hangat)

ramdy raharja  “SELOW BEIY” (2009)

hay guy

asik juga alami realita hidup ini

banyak yang bisa di ambil dari kehidupan sehari hari ini

senang derita canda tawa semua jadi satu.

hehehhe

di umur yangg semakin tua kita lebih harus menghadapi yang di pilah pilah secara cermat
emosi perlu tapi jangan selalu di tonjolkan trus
tua muda sama sajah yang penting “SALING”
saling percaya
saling Pengertian
saling perhatian
saling memberi semangat
saling harga menghargai
pokonya kaya pelajaran PKN anak SD lah perihal tentang ETIKA

Buat yang Punya Etika Mending pergi ajah Ke neraka!
people can make each other smile and
peolpe can make each other misery..

keep smile for face your day
keep spirit
and keep cautious
LOVE you ALL

MAKALAH AKHIR

“Nilai Budaya Dalam Mobilitas Penduduk dan Lingkungan Hidup”

Oleh:

Randy Raharja (I34080132)

Asisten Dosen:

Dyah Ita Mardyaningsih, SP, M.Si

Berfikir dan Menulis Ilmiah

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2009

RINGKASAN

Mobilitas penduduk Indonesia antara daerah yang satu dan daerah yang lain tidak bisa diperbandingkan atau disamakan penyebabnya. Setiap daerah punya ciri masing masing. Menelusuri mobilitas penduduk hal yang tidak bisa diungkap adalah masalah budaya kepeloporannya. Kawasan Indonesia sangat kental dengan masalah mobilitas ini disamping itu Indonesia juga punya lingkungan hidup yang cukup banyak dan menyebar di seluruh kawasan Indonesia.

Lingkungan hidup merupakan warisan alam yang memiliki nilai strategis bagi kehidupan makhluk di bumi ini sehingga keberadaannya pun menjadi bagian penting dari kelangsungan hidup dan kelestariannya. Kualitas lingkungan hidup sangat ditentukan oleh budaya yang dilaksanakan karena kebudayaan sangat mengkondisikan pengelolaan lingkungan tersebut. Salah satu lingkungan hidup di Indonesia yang sangat rentan adalah hutan, banyak penebangan hutan dan kebakaran hutan yang sangat merugikan Indonesia adalah melibatkan masyarakat. Merujuk pada kenyataan upaya memelihara hutan haruslah dilakukan oleh masyarakat yang ada terlebih masyarakat tradisional yang masih ada di kawasan Indonesia.

(i)

ABSTRAK

Hutan merupakan karunia alam yang memiliki nilai strategis bagi kehidupan manusia terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Hutan merupakan salah satu lingkungan hidup yang perlu dijaga kelestariannya.  Salah satu contoh kualitas hutan dan areal hutan di Indonesia setiap tahun berkurang 1,3 juta hektar contoh Pulau Jawa hanya 19% permukaannya ditutupi oleh hutan. Hutan yang termasuk kelestariaan lingkungan hidup berpengaruh juga terhadap mobilitas penduduk tradisional  di Indonesia berdasar budaya yang mereka anut .

Kata kunci : Hutan , mobilitas penduduk, lingkungan hidup, budaya.

ABSTRACT
Forests are the natural gifts that have strategic value of human life, especially to meet the basic needs of life. Forest is one of the necessary environment preserved. One example of the quality of forests and forest areas in Indonesia every year decreased 1.3 million hectares of Java example only 19% of its surface is covered by forest. Preserve forests including the environmental impact of population mobility is also traditional in Indonesia, based culture that they profess.

Keywords: Forest, mobility of population, environment, culture.

(ii)

KATA PENGANTAR

Berfikir dan Menulis Ilmiah merupakan salah satu mata kuliah yang di ajarkan di Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Mata kuliah ini mengajarkan para mehasiswa dari awal cara berfikir ilmiah, pembuatan kutipan, catatan kaki, penyajian data, tabel, daftar pustaka, ringkasan, sehingga mahasiswa mampu berfikir ilmiah dan menghasilkan tulisan-tulisan ilmiah.

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat ALLAH SWT, karena berkat-Nya tugas makalah akhir Berfikir dan Menulis Ilmiah ini terselesaikan tepat waktu. Penulis mengambil topik “Nilai Budaya Dalam Mobilitas Penduduk dan Lingkungan Hidup”. Penulis mengambil topik tersebut karena selain tuntutan tugas akhir dan juga tentu saja untuk membuktikan bahwa penulis telah menguasai materi yang diajarkan mata kuliah Berfikir dan Menulis Ilmiah. Penulis menyadari bahwa sekarang ini banyak berbagai bentuk budaya . Setelah mengkaji lebih dalam melalui berbagai referensi yang ada, akhirnya penulis mengetahui bagaimana nilai budaya di suatu daerah dalam mobilitas penduduk serta dampak terhadap lingkungan hidup yang ada.  Semuanya telah dibahas dalam makalah ini.

Penulis juga tak lupa mengucapkan terima kasih kepada dosen dan asisten dosen yang telah membimbing dalam pembuatan makalah ini. Memang dalam suatu karya pasti ada yang tidak sempurna, begitu pula dengan makalah ini. Penulis menyadari berbagai macam kekurangan yang ada. Untuk itu penulis mengharapkan berbagai macam saran dan kritik yang membangun, sehingga dapat lebih baik kedepannya. Akhir kata penulis ucapkan terima kasih.

Bogor, Desember 2009

Penulis

Randy Raharja

(iii)

DAFTAR ISI

Ringkasan ………………………………………………………………………………………………. (i)

Abstrak ……………………………………………………………………………………… ………….(ii) Kata Pengantar ……………………………………………………………………………………….(iii)

Daftar Isi ………………………………………………………………………………………………..(iv)

BAB I Pendahuluan …………………………………………………………………………………… 1

1.1.LatarBelakang……………………………………………………………………… 1

1.2.PerumusanMasalah ……………………………………………………………… 2

1.3.Tujuan ……………………………………………………………………………….. 2

1.4.Manfaat ……………………………………………………………………………… 2

BAB II Pembahasan …………………………………………………………………………………. 3

2.1. Hasil dan Pembahasan ………………………………………………………………….. 3

BAB III Kesimpulan dan Saran …………………………………………………………………. 8

3.1. Kesimpulan ……………………………………………………………………….. 8

3.2. Saran ………………………………………………………………………………… 8

Daftar Pustaka …………………………………………………………………………………………. 9

(iv)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Budaya itu bagaimana pun merupakan bagian dari kehidupan manusia , baik sebagai hal yang berharga sehingga harus dikejarnya , maupun sebagai hal tak berharga sehingga harus dijauhinya. Budaya dalam hal ini mirip dengan Tuhan, yang harus kita dekati ; akan tetapi jika kita gegabah memandangnya sebagai sesama kita, maka sikap ini akan mengancam kelestarian kita sendiri. Budaya manusia menaklukan alam, tetapi budaya tersebut juga dapat merusak alam. Alam dan budaya dua kutub yang saling memerlukan dan memberi ruang kehidupan bagi manusia. Budaya  pasang surut  seperti yang terjadi pada ilmu, cenderung membahayakan bagi manusia sendiri  yang menciptakannya. Ekspansi yang hebat dari teknik menghasilkan imperialisme teknik sehingga mengancam budaya susila. (Widagdho Djoko, dkk. 2008).  Budaya merupakan sebuah ide yang tergabung oleh karya manusia yang harus dibiasakan dalam pembelajaran. Budaya tersendiri berisi dari nilai , kepercayaan, dan pengertian tentang abstrak tentang jagat raya. Dalam konteks budaya , kehidupan manusia tidak terlepas dari lingkungan alam, lingkungan transendal, dan  lingkungan sosial. Lingkungan transendal merupakan konsekuensi logis sifat manusia terhadap homo religius. Nilai budaya memiliki pengertian konsep bersifat abstrak mengenai dasar dari suatu nilai dalam kehidupan manusia (Ariyono, 1985).

Bermunculannya berbagai macam kasus lingkungan hidup merupakan suatu tanda bahwa tidak adanya keselarasan antara manusia dan lingkungan alam di sekitarnya. Melihat dampak yang ada seharusnya kepedulian manusia sangat diperlukan untuk menunjang keserasian terhadap alam. Beberapa kasus yang muncul antara lain adalah terumbu karang laut rusak akibat penggunaan bahan peledak pada proses penangkapan ikan. Hutan merupakan karunia alam yang memiliki nilai strategis bagi kehidupan manusia terutama untuk memenuhi berbagai kebutuhan dasar hidupnya. Beruntung sekali hingga saat ini kepulauan Indonesia masih dipenuhi suasana hutan yang indah sepanjang mata memandang. Kawasan di luar pun akan terpengaruh dengan hutan di kawasan dalam negeri.  Kondisi hutan di Indonesia setiap tahun berkurang 1,3 juta hektar. Kondisi pulau Jawa tak tekecuali kini tinggal 19 persen permukaanya saja yang tertutupi hutan . pulau Jawa sangat dikagumi, bahkan mendapat julukan Garden of the East ( Muchtar  Lubis, 1988:8).

1.2.Perumusan Masalah

  • Bagaimana nilai budaya yang ada di suatu daerah terhadap mobilitas penduduk?
  • Bagaimana hubungan penduduk tradisional dengan kearifan lokal yang ada?

1.3. Tujuan

Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui bagimanakah nilai budaya yang ada di suatu daerah terhadap mobilitas penduduk dan bagaimana hubungan penduduk tradisional dengan kearifan lokal yang ada.

1.4. Manfaat

Manfaat dari makalah ini diharapkan dapat berguna dalam mengetahui nilai budaya suatu daerah serta dampak terhadap lingkungan hidup dan juga bagi para pembaca dapat memahami apa yang terkandung dalam karya tulis ini.

2

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Arus Informasi dan Transformasi yang Mendorong Mobilitas

Mobilitas penduduk terdorong akibat adanya arus informasi dan transformasi. Informasi dapat mendorong perubahan dalam masyarakat karena informasi itu beredar, mengalir. Semua info mengalir lewat media karena nilai dan cara kerjanya yang terpola. Media merupakan pranata sosial, sebagai pranata media tak hanya sekedar cermin kehidupan masyarakatdan individu. Media menyampaikan hal yang jauh lebih kaya, lebih banyak, lebih beragam, daripada kenyataan hidup sekelompok atau seorang individu penerima.

Panduan tiga arus informasi ini menjadikan media berkemampuan mendorong perubahan atas nilai , bahkan susunan sosial budaya yang ada dan menawarkan nilai serta susunan baru sebagai penggantinya[1]. Informasi sebagai cermin kenyataan telah lama jadi pokok bahasan dan perdebatan. Kita tentu tudak perlu mengulanginya di sini. Informasi yang dibutuhkan adalah yang semaksimal mungkin sedangkan untuk mempertahankan keadaan yang sudah ada mutlak perlu informasi yang sesuai dengan keinginan[2]. Setelah mengalir lewat media informasi sudah langsung siap untuk digunakan oleh penerima. Penggunaan macam- macam, sebanyak ragam susunan informasi itu, sebentuk media yang menyampaikan , dan sebanyak keperluan serta keinginan para penerimanya. Tingkat tertinggi dampak dari sikap kritis informasi adalah menjadi awal perubahan yang biasa disebut perubahan paradigma[3].

3

2.2 Mobilitas Penduduk

Awalnya sejak manusia Simantrhropus Pekinnensis, Cro Magnon dan lainnya di zaman pletosin dan Holosin kira kira 3 juta sampai 10 juta tahun lalu sebelum masehi, keidupan manusia berpindah pindah dari gua ke gua yang lain mendekati padang perburuannya. Dalam perkembangan sejarahnya, akhir manusia memilih tempat tempat tertentu, menetap untuk waktu yang relaif lebih lama. Kebiasaan yang menyertainya, dinamakan budaya dan tingkat kemajuan lahir dan bathinnya dinamakan peradaban. Budaya itu dinamis berbagai budaya dari luar terus mempengaruhi budaya bangsa Indonesia, terlebih sekarang era globalisasi berbagai budaya tercampur aduk diserap anak muda melalui berbagai media. Dasar budaya ini dapat dikembangkan melalui jiwa pelopor. Mobilitas penduduk yang tinggi sangat diperlukan oleh negar kepulauan dan bangsa yang heterogen dalam menyatukan suatu negara. Perlu pengembangan transportasi antar pulau yang mudah dan murah menjadi sangat strategis bagi pengembangan mobilitas penduduk. Membuat masyarakat membaur adalah penting bagi negara kepulauan dan negara yang heterogen ini. Kedatangan penduduk luar mendorong produktivitas penduduk di tempat tujuan. Gejala sosial, ekonomi dan budaya ini menunjukan bahwa peradaban penduduk dunia telah dikembangkan oleh manusia yang menpunyai kemampuan tinggi dalam menghadapi tantangan di lingkungan barunya. Mobilitas yang tinggi juga mampu memberi manfaat bagi penduduk berpindah dan bagi penduduk di daerah tujuan.

4

2.3.  Keserasian Etika Budaya dengan Manusia

Filosuf Perancis Albert Schweitzer mengatakan bahwa mengembangkan budaya tanpa pakai etika pasti membawa kehancuran, sebab itu dianjurkan agar kita memperjuangkan mati-matian unsur etika didalam mendasari budaya. Budaya itu bagaimana pun merupakan bagian dari kehidupan manusia , baik sebagai hal yang berharga sehingga harus dikejarnya, maupun sebagai hal tak berharga sehingga harus dijauhinya. Budaya dalam hal ini mirip dengan Tuhan, yang harus kita dekati ; akan tetapi jika kita gegabah memandangnya sebagai sesama kita, maka sikap ini akan mengancam kelestarian kita sendiri. Budaya manusia menaklukan alam, tetapi budaya tersebut juga dapat merusak alam. Alam dan budaya dua kutub yang saling memerlukan dan memberi ruang kehidupan bagi manusia. Budaya yang meluas dan meningkat seperti yang terjadi pada ilmu, cenderung membahayakan bagi manusia sendiri  yang menciptakannya. Ekspansi yang hebat dari teknik menghasilkan imperialisme teknik sehingga mengancam budaya susila. Di masa sekarang kita dapat menghayati dua jenis ketidakmanusiawian itu sekaligus. Seorang manusia dengan tata kerja robot dapat sekaligus hidup secara teknis dan etis pula. Untuk berkembangnya ruang hidup yang manusiawi tak dapat mengagungkan budayawi saja ataupun yang alami sajah. Kedua- duanya harus ditempuh bersama, yakni alam dan budaya di mana budaya itu sendiri tak boleh dijumbuhkan dengan teknik, akan tetapi harus  dihayati dalam cakupan ilmu, etika, dan seni.

5

2.4. Perilaku Penduduk Suatu Daerah terhadap Ekosistem Hutan

Saya mengambil contoh penduduk daerah tradisional yaitu Kampung Naga.[4] Masyarakat Kampung Naga yang merupakan sebuah gamabaran kelompok masyarakat yang masih mempertahankan sifat ketradisionalannya, tentu saja membutuhkan sejumlah sumber daya dari lingkungan alam yang ada di sekitarnya untuk kelangsungan hidup. Pada dasarnya hutan merupakan salah satu tempat yang paling tepat dan dominan untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan bahan baku untuk sejumlah keperluan mereka. Namun karena adanya pantangan adat maka mereka mengalihkan ke lahan kebun. Kebun merupakan suatu kompensasi dari kebutuhan masyarakat Kampung Naga akan sejumlah sumber daya yang terdapat di dalam hutan. Dari kebun mereka dapat mengambil kebutuhan sehari-hari berupa kayu dan bambu untuk fasilitas kampung, kerajinan anyaman, dan rumah. Meskipun masyarakat Kampung Naga begitu dominan dengan nuansa kesederhanaan dan ketradisionalannya, mereka juga tetap menginginkan peningkatan kesejahteraan hidup. Masyarakat Kampung Naga mengartikan hutan sebagai suatu wilayah yang tidak dipelihara. Di dalamnya tidak terdapat rumah, sawah atau kolam, yang ada hanya pohon besar. Selain itu hutan juga biasanya di huni oleh berbagai jenis hewan. Namun cerita mengatakan hewan yang ada di hutan hilang setelah meletusnya Gunung Galunggung pada tahun 1982. Warga Kampung Naga menempatkan hutan sebagai bagian dari kehidupan spiritual mereka yang merupakan suatu dunia yang sangat erat kaitannya dengan leluhur mereka.

6

2.5. Kearifan Lokal Penduduk Lokal

Dalam tradisi yang dianut oleh para penduduk Kampung Naga memiliki hutan larangan dan hutan keramat. Mengamati kondisi ini memang cukup bagus untuk kita pandang. Hutan keramat ini memang sangat di istimewakan karena adanya makam keramat dari nenek moyang yang sangat dihormati yakni Eyang Singaparna. Ada komitmen yang dihargai oleh mereka tabu bagi mereka untuk memasuki dan mendayagunakan hutan larangan. Biasanya mereka hanya untuk upacara saja kekuatan tradisi dalam mengendalikan diri begitu besar. Manifestasi ketradisionalan mereka tampak dari berbagai hal khususnya dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sistem kepercayaan mereka dalam religi mengandung bayang bayang orang yang wujud gaib , tentang wujud dew, kekuatan sakti, tentang apakah yang terjadi dengan manusia sesudah mati, tentang wujud dunia akhirat dan sering kali juga tetntang terjadinya dan wujud bumi dan alam semesta (koentjaraningrat,1981 :229:230)

Berbicara mengenai makhluk halus ini tidak terlepas dari konsep masyarakat yang digunakan dalam memandang alam semesta termasuk lingkungan hidupnya yakni kosmologi. Salah satunya adalah konsep kepercayaan mereka terhadap ruang dan waktu. Selanjutnya belum terdengar keberadaan hutan di Kampung Naga dihuni oleh makhluk halus tertentu , yang ada dalam kepercayan mereka bahwa hutan tersebut erat sekali kaitannya dengan nenek moyang mereka.

Bagi masyarakat ini pantang bagi mereka untuk menginjak kaki mereka di hutan larangan. Pantangan lainnya dikenakan terhadap pohon pohon yang biasa terdapat di hutan seperti kayu dan bambu. Bila di beri wangsit dahulu maka masyarakat diperbolehkan untuk mengambil kayu dan bambu di hutan untuk keperluan khusus. Bagi masyarakat kampung Naga pantang mengambil kayu untuk bahan bangunan pada hari Rabu, karena akan mengakibatkan “bubuk kai”. Maksudnya kayu tersebut tidak dapat dipergunakan untuk membuat papan.

7

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan

Menjaga keseimbangan antara manusia , lingkungan alam fisik, dan lingkungan transendental, hingga kini masih merupakan nilai hidup masyarakat tradisional khususnya masyarakat Kampung Naga. Nilai tersebut tidak lepas dari sumber acuan seluruh gerak dan langkah mereka dalam berbagai dimensi kehidupan, yakni sistem kepercayaan mereka yang bertumpu pada keberadaan nenek moyang berkaitan dengan ajaran-ajaran yang diwariskannya. Wujud dari nilai tersebut melahirkan suatu bentuk pengelolaan lingkungan alam fisisk secara arif dan bijaksana.

Mobilitas penduduk akan berkaitan dengan adanya transmigrasi berdasar kepadatan penduduk yang telah ada di Indonesia. Kemerataan ini sangat mendasari dengan  mobilitas penduduk. seluruh sikap dasar sampai kemampuan beradaptasi sangat diperlukan untuk terjadinya mobilitas penduduk  yang diharapkan.

3.2 Saran

Keteraturan warga negara yang baik dan untuk mewujudkan tersampaikannya aspirasi dari seluruh warga harus dimilikinya mobiitas penduduk yang baik. Mobilitas yang baik bukan hanya memperhatikan sesama warganya melainkan harus juga memperhatikan lingkungan hidup yang ada agar seluruh lingkungan hidup yang ada di negar kepulauan kita ini dapat lestari sampai masa depan kita.

8

DAFTAR PUSTAKA

Ariyono Suyono. 1985. Kamus Antropologi. Jakarta: Pressindo CV.

Bakker. 1984. Sebuah Pengantar Filsafat Kebudayaan. Yogyakarta-Jakarta:

Penerbit Kanisius dan BPK Gunung Mulia.

Geertz Hildred. 1981. Aneka Budaya dan Komunitas Di Indonesia. Jakarta:

Yayasan Ilmu Sosial & FIS UI.

Hoebel. 1982. Man In Primitive World(second edition). New York:

Mc Grow Hill Book Company.

Koentjaraningrat. 1974. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta:

PT Dian Rakyat.

Otto Soemarwoto. 1983. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan.

Jakarta: Djambatan.

Widagdho Djoko, dkk. 2008. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.

9


[1] Daniel lerner pernah menyimpulkan bahwa media telah menimbulkan semangat pembangunan dikalangan timur tengah.

[2] Hal ini terdengar seperti paradoks apa yang dianggap sebagai upaya menutup-nutupi cenderung dilakukan oleh kelompok yang berkuasa.

[3] Ulasan lebih mendalam tentang perubahan paradigma dapat dibaca dalam buku Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolution ( Chicago: The university ofChicago Press, 1970).

[4] Kampung yang terletak di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya